Pas kunjungan ke Jatisari bareng Senja dan bokap-nyokap, ada beberapa hal yang terungkap dari pembangunan rumah kami di Jatisari.- Dinding dapur yang harusnya hanya 1.20 meter, kok ya dibikin tinggi sama pak tukangnya. Dan ini pun atas inisiatif doi. Hoalah.
- Di eternit kamar gw-Hil, kok ada bolong selebar 50 cm yak? Ooo itu ternyata karena kamar pembantu di atas tuh lebarnya 2,5 meter, sementara kamar kami lebarnya 3 meter. Wah harus disikapi nih.

- Ketemu Pak Asep, asisten tukang. Dia usul pintu dibikin minimalis, dikasih aksen garis gitu. Trus dia tanya tempat toren air di mana.
- Dinding belakang juga mesti disiasati. Yang sekarang pendek. Jadilah gw bisa ngeliat dapur orang belakang. Males dongs. Seperti juga dia tentu males liat gw terus-terusan, hahaha.
- Karena bikin lantai 2 - yang kurang dikomunikasikan itu - jadilah terbentuk ruangan secara tidak sengaja di lantai 2. Blessing in disguise, karena kalo gak ada ruangan itu, gw pasti akan kebingungan di mana mesti naro buku-buku dan DVD ini.
Dari hasil pertemuan ini, diagendakan untuk ketemu lagi barengan Pak Asep dan Pak Anang.Ah. Another expenses. Shoot.
Yang paling seru dari kunjungan kali ini adalah reaksi Senja. Dia udah mau nyebut ini sebagai 'rumah Senja'. Dan dengan bersemangat masuk ke 'calon kamar Senja'.
Ahhh senangnya. Yes dear, it will be your room. Our house. Our home.
No comments:
Post a Comment